EBOOK Baru :
Recent EBOOKS
Tampilkan postingan dengan label Umum. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Umum. Tampilkan semua postingan

Surat Kecil Untuk Tuhan

Buku ini mengisahkan ulang cerita pilu seorang gadis bernama Keke atau Gita Sesa Wanda Cantika. Ia terkena penyakit yang terbilang langka bernama Rabdosmiosarkoma atau yang dalam bahasa awam dikenal dengan nama kanker jaringan lunak. Keke sendiri merupakan pasien pertama di Indonesia yang terdeteksi terkena penyakit tersebut. Hal ini yang menjadikan kisahnya sangat menggugah. Keke divonis terjangkiti penyakit tersebut di usia 13 tahun dan hanya dalam jangka waktu 5 hari saja! Kanker jaringan lunak tersebut perlahan merubah wajah belia keke. Ia menjadi seseorang yang tak dikenali lagi sebab wajahnya menjadi sesuatu yang tak elok dipandang mata. Bagi anak-anak, mungkin wajah keke tersebut akan dipanggilnya rupa monster. 

Buku ini didasarkan pada kisah nyata. Sang penulis mengemas perjuangan keke melawan penyakit kanker tersebut dengan baik. Meskipun pada beberapa bagian ia terlalu memaksakan pesan moral masuk pada dialog beberapa tokoh sehingga mengacaukan setting. Namun, toh, buku ini tetap memberi spirit utamanya bagi generasi muda bahwa seberapapun cobaannya, kita harus berani berdiri dan menghadapinya. 

Perjuangan keke sempat berbuah manis, sebab tim dokter berhasil menyembuhkan penyakitnya. Hal ini menjadi sebuah prestasi tersendiri bagi dunia kedokteran di Indonesia pada saat itu dan menjadi buah bibir di Negara lain. Banyak yang bertanya bagaimana bisa penyakit ganas tersebut ditaklukkan. Polemik tersebut akhirnya mendapat jawaban, sebab keke hanya “sembuh sementara”. Beberapa saat setelah ia menjalani pengobatan, kanker ganas itu bertamu kembali dan sekali lagi menyerang tubuh dan semangatnya. Keke pun menyadari, waktunya hidup tak bisa diulur lagi dengan obat dan lain-lainnya. Benar saja, ia meninggal pada tanggal 26 Desember di tahun 2006. Sebelum meninggal, ia sempat menuliskan surat. Surat ini kemudian yang mengilhami pemilihan judul “Surat Kecil Untuk Tuhan”. Berikut petikan surat keke tersebut: 

Andaikan,….. semua dapat terulang kembali,
Tetapi pernahkah anda berfikiran tentang itu?
Pernahkah anda mengira-ngira apa yang akan terjadi
Jika semuanya dapat terulang kembali?
Dalam novelnya ini, Agnes Davonar menekankan makna sebuah waktu dalam kehidupan di dunia ini.
Kisah nyata gadis berusia 13 tahun bertahan hidup dari kanker ganas paling mematikan di dunia. 

Tuhan …………..
Andai aku bisa kembali
Aku tak ingin ada tangisan di dunia ini
Tuhan …………
Andai aku bisa kembali
Aku berharap tidak ada lagi hal yang sama terjadi padaku
Terjadi pada orang lain
Tuhan ……………
Bolehkah aku menulis Surat Kecil Untuk-Mu?
Tuhan …………….
Bolehkah aku memohon satu hal kecil pada-Mu?
Tuhan ………………
Biakanlah aku bisa dapat melihat dengan mataku
Untuk memandang langit dan bulan setiap harinya

Jika ditelaah, buku ini memang menarik. Bukan hanya berbicara persoalan derita seseorang, tetapi juga memperlihatkan sebuah perjuangan sekaligus kepasrahan pada Sang Pencipta. Penulis novel ini berhasil menyampaikan kisah keke dengan baik. Selain keke, tokoh lain di dalam kisah ini antara lain ayah Keke sendiri, sahabat-sahabat keke yakni Fadha, Maya, Shifa, ida dan Andhini, ada pula Dr. Adhi, Dr. Mukhlis, Andi, Pak Iyus. Karena ini berdasar pada kisah nyata, maka tokoh tersebut semua nyata. Mungkin hal ini yang membuat watak para tokoh tergambar dengan jelas. 

Secara umum, novel ini layak untuk dibaca. Alur yang digunakan adalah campuran yakni maju dan mundur. Sementara itu setting cerita antara lain rumah Keke, sekolah, rumah sakit dan juga beberapa potongan kejadian di sebuah villa. Penulis menggunakan sudut pandang cerita orang pertama. Jadi saat membaca buku ini kita seolah sedang mendengarkan Keke bercerita kisahnya sendiri. Adapun pemilihan bahasa yang dipakai penulis cukup ringan sehingga novel ini bisa dibaca untuk umum. Novel ini juga banyak menyisip nilai moral dan nilai agama. Tentu hal ini merupakan pembelajaran yang baik bagi pembaca.

{[['']]}

Rubuhnya Surau Kami (Kumpulan Cerpen)

Secara umum, cerpen “Robohnya Surau Kami” karya A.A. Navis ini memiliki cerita yang sangat unik dan menarik. Cerita ini dikemas secara sederhana, tetapi penuh makna dan kritik atas kehidupan manusia pada jaman modern ini. Di mana manusia berlomba-lomba untuk memnuhi kepentingannya sendiri, bahkan dalam masalah agama. Manusia menjalankan agamanya dengan baik dan taat hanya agar dirinya dapat masuk surga. Manusia memuji Tuhannya tidak lagi dengan hati yang tulus karena mencintai-Nya, melainkan hanya agar memperoleh pahala dan semakin mudah jalannya untuk masuk ke surga. Sangat mengenaskan dan memprihatinkan memang, tapi itulah kenyataan pada masa kini yang berhasil ditangkap oleh A.A. Navis dan dituangkankannya ke dalam cerita ini.

{[['']]}

Cinta Itu Asyik. Tapi Jangan Bercinta

Apabila anda menyentuh buku ini, maka bagi yang sedang atau belum bercinta, sedang atau belum berpacaran, cekcok atau lagi putus, senang atau lagi jengkel pada pacar, tetap anda wajib membaca seluruhnya. Bercinta dan Pacaran itu Asyik.

Sengaja ditulis demikian supaya Anda tergoda dan pengin merasakannya. Orang bilang “Main cinta itu asyik, tetapi jangan coba-coba mempermainkan cinta”, hasilnya bukan menjadi asyik, tetapi malapetaka. Semua orang senang kalau dicintai, tetapi tunggu dulu, tentu yang mencintai itu orangnya harus yang baik-baik. Seorang teman saya terpaksa harus lari pontang panting ketika diketahui bahwa seorang wanita yang kurang waras jatuh cinta padanya.

Melalui buku ini Anda diharapkan lebih dewasa dalam bercinta, ada banyak hal yang merupakan tembok batas pemisah yang tidak boleh dilangkahi. Etika dan kesopanan serta respek terhadap orang tua tetap menjadi perjuangan penulis, namun tidak diharapkan adanya tekanan dan penjajahan dari mereka. Cinta itu Asyik, jangan Asyik Bercinta, sehingga lupa segalanya

“Oleh karena cinta itu sabar; cinta itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. Cinta yang sejati dan murni, cinta yang tanpa syarat (unconditional love)”. Milikilah!!

{[['']]}

Rich Dad Poor Daad

Berdasarkan cerita Kiyosaki, dia dilahirkan dari sebuah keluarga yang terpandang di Hawai, terutama dalam bidang pendidikan dan menjadi kepala dinas pendidikan di Hawai pada waktu itu. Ayah kandungnya adalah seorang berpendidikan tinggi dan sangat cerdas. Ayahnya mendapat pendidikan sampai Ph.D kemudian dilanjutkan ke Stanford University, University of Chicago dan Nothwestern University. Untuk pendidikan tingginya ,semua dibiayai oleh beasiswa. Kiyosaki dalam kisahnya menyebut ayah kandungnya sebagai ayah yang miskin (poor dad), karena meskipun sukses dalam pendidikan dan karir, pada akhir hidupnya meninggalkan banyak hutang dan tidak kaya. Sedangkan ayah satunya adalah bukan ayah kandungnya akan tetapi ayah dari temannya, yang darinya Kiyosaki banyak belajar tentang filosofi uang dan kebebasan finansial. Ayah kayanya (rich dad) tidaklah memiliki pendidikan setinggi ayah miskinnya, bahkan tidak lulus pendidikan tingkat 8 nya ( SLTP mungkin kalau di Indonesia) . Akan tetapi diakhir hidupnya, dia menjadi orang terkaya di Hawai. Keduanya adalah orang yang sukses dibidangnya, akan tetapi didalam kebebasan finansial, keduanya berakhir dengan hasil yang berbeda.

Pada saat ayah kayanya belum kaya dan ayah miskinnya belum miskin, kedua orang ayahnya adalah orang yang berusaha keras untuk sukses di bidangnya. Ayah miskinnya bekerja keras di jalur pendidikan dan ingin hidup tenang sebagai pegawai pemerintahaan yang baik, sedang ayah kayanya berusaha keras membangun kerajaan bisnisnya. Kedua ayah Kiyosaki ini memiliki cara pandang yang sangat berbeda terkait uang, pengelolaan, dan tujuan finansialnya. Ayah miskinnya mengatakan bahwa mencintai uang adalah sumber dari segala setan, sedangkan ayah kayanya mengatakan bahwa kehabisan dan kekurangan uang adalah sumber dari setan. Ayah miskinnya mengatakan bekerjalah dengan keras, dapatkan pekerjaan yang baik dan capailah karir setinggi-tingginya, sedang ayah kayanya menyarankan agar segera membangun aset dan mencapai kebebasan finansial (finansial freedom).

Ayah miskinnya, hanya sedikit menyinggung tentang uang dan bagaimana memperolehnya, sedang ayah kayanya setiap hari mengasah otaknya dengan kecerdasan finansial dan mengembangkan bisnisnya.

Berikut beberapa perbedaan pandangan ayah miskin (PD) dan ayah kaya (RD)Kiyosaki terkait tentang uang dan kebebasan finansial :

1. PD : Rumah adalah aset
RD : Rumah yang ditinggali adalah liabilitas.
Rich dad mengatakan, jika kamu berhenti bekerja saat ini, aset akan memasukkan uang kedalam kantongmu, sedangkan liabilitas mengambil uang dari kantongmu. Seringkali orang biasa mengatakan liabilitas sebagai aset, dan ini adalah pelajaran pertama kalau ingin kaya, harus bisa membedakan mana aset dan mana liabilitas.

2. PD : Saya tidak mampu untuk melakukannya
RD : Apa yang saya lakukan agar mampu?
Pernyataaan saya tidak mampu melakukannya akan mematikan otak kita, dengan pertanyaan yang tepat, pikiran akan terbukan dan akan berusaha menemukan jawabannya.

3. PD : Alasan saya tidak kaya karena kamu nak
RD : Alasan saya harus menjadi kaya karena memiliki kamu nak.

4. PD : Saya tidak tertarik dengan uang
RD : Uang adalah power

5. PD : Apabila berkaitan dengan uang, jangan mengambil resiko, bermainlah dengan aman saja
RD : Belajarlah untuk mengelola resiko.

6. PD : Bayar aku yang terakhir.
RD : Bayar aku yang pertama.
Ayah kayanya selalu mengambil keuntungan dari pendapatannya dan meletakkan uang itu kedalam account investasi yaitu untuk membeli aset-aset dia. Ayah miskinnya membelanjakan semua uangnya pertama dan tidak pernah terpikir untuk berinvestasi.

7. PD : Konsentrasilah pada pendidikan.
RD : Fokuslah pada kecerdasan finansial sebagaiman juga kecerdasan akademik.

8. PD : Belajarlah hanya kata-kata pendidikan.
RD : Belajarlah kata-kata keuangan, kata-kata adalah tool kamu yang paling powerfull.

9. PD : Aku bekerja untuk uang.
RD : Uang bekerja untukku.

10.PD : Berfikir untuk menghasilkan uang akan menyelesaikan masalah keuangan.
RD : Mengetahu bahwa pendidikan finansial adalah jawaban masalah keuangan.
Bukan berapa uang yang bisa anda dapatkan yang terpenting, akan tetapi berapa banyak uang dapat anda pegang dan berapa lama uang tersebut anda pegang.

Kaya, Aset, Liabilitas, dan Kebebasan Finansial

Apakah anda ingin kaya? Ya, mayoritas dari kita pasti ingin kaya. Tapi apakah kaya menurut anda? Apakah punya rumah bagus, atau mobil mewah? Apakah memiliki usaha sendiri? Apakah memiliki tabungan uang bermilyar-milyar? Saya yakin meskipun kita semua atau mayoritas kita ingin menjadi kaya, tapi beragam jawaban definisi yang akan diberikan, atau bahkan kita tidak memiliki jawaban apakah kaya itu. Hal ini penting, karena segala sesuatu kita lakukan harus memiliki tujuan yang jelas. Kalau anda ingin kaya, maka anda perlu tahu apa itu kaya, atau paling tidak menurut definisi anda sendiri apa itu kaya. Ada mungkin sebagian orang bahwa menjadi kaya adalah tidak baik, membawa kita kepada keserakahan, lupa diri, dan hal-hal yang negatif. Hal ini adalah keliru. Kemiskinan dan tidak memiliki keamanan finansial itu adalah sumber dari banyak masalah hidup.

Menurut Robert T Kiyosaki kekayaan adalah berapa lama harta anda mampu menghidupi anda ketika anda tidak bekerja atau tidak menghasilkan pemasukan apapun. Anda bisa dikatakan kaya, kalau anda dapat hidup seumur hidup anda secara terjamin tidak kurang suatu apa, meskipun saat ini tidak bekerja lagi atau tidak menghasilkan pemasukan. Menurut saya hal ini lebih masuk akal dan dan fungsional. Meskipun anda memiliki uang sangat banyak belum tentu anda lebih kaya dari orang lain yang memiliki uang atau harta yang lebih sedikit dari anda. Anda memiliki uang 10 juta, dan pengeluaran anda sebulan 2 juta, maka kekayaan adan adalah 5 bulan. Sedangkan orang yang memiki uang 20 juta, tetapi pengeluaran bulanannya 5 juta, kekayaannya adalah 4 bulan. Tapi apabila pengeluaran anda sebulan 2 juta, sedangkan uang anda sedangkan tabungan anda 1, 5 milyar, secara hitung kasar cukup untuk menghidupi pengeluaran anda seumur hidup, Itu artinya anda kaya. Sekarang coba anda jawab, apakah anda sudah kaya saat ini dan apakah anda ingin kaya atau hidup terjamin seumur hidup?

Untuk menjadi kaya hal yang harus dimengerti pertama kali adalah tahu dan bisa membedakan aset dan liabilitas, kemudian berusaha semaksimal mungkin untuk mengumpulkan atau mengusahakan aset dan menekan atau meminimalisir pemilikan liabilitas. Beberapa kali kita sudah membicarakan aset dan liabilitas. Tapi mari kita bahas sekarang dengan lebih jelas. Aset adalah segala sesuatu yang kita miliki yang dapat menghasilkan pemasukan untuk kita. Sederhananya, apa saja yang anda miliki yang dapat memasukkan uang ke dompet anda. Sedangkan Liabilitas adalah apa saja yang anda miliki yang dapat mejadi sumber pengeluaran kita. Atau apa saja yang kita miliki sekarang ini yang dapat mengeluarkan uang dari dompet anda. Segala sesuatu yang anda miliki itu pada dasarnya dibagi menjadi dua itu saja. Tapi saya yakin kita kebanyakan memiliki liabilitas lebih banyak daripada aset. Contoh aset : Deposito menghasilkan interest, Saham menghasilkan deviden, Rumah dikontrakkan menghasilkan uang kontrakan, Komputer dan internet menghasilkan uang online busines, warnet, toko, rental mobil, franchise, reksadana, obligasi dan masih banyak lagi. Itu semua menghasilkan uang untuk anda. Sedangkan contoh liabilitas adalah : Handphone menghabiskan pulsa, televisi menghabiskan listrik, komputer dan internet yang hanya digunakan untuk kesenangan dan mencari gambar porno, mobil, rumah tempat tinggal, mesin cuci, kulkas, dan masih banyak lagi.

Coba anda lihat kesekeliling anda sebentar. Saya yakin kebanyakan dari kita memiliki lebih banyak liabilitas daripada aset. Mungkin anda akan menanyakan, kalau televisi adalah liabilitas. Apakah kita tidak boleh memilikinya? Bagaimana dong nanti tidak bisa nonton sinetron? Yang perlu anda lakukan adalah menyadari bahwa televisi adalah liabilitas. Kalau anda ingin kaya maka anda harus menekan liabilitas, dengan cara apa? Kurangi penggunaan televisi. Jangan biarkan televisi nyala terus meski tidak ada yang nonton, atau tetap menyala meskipun anda tertidur. Dengan menyadari televisi adalah liabilitas, janganlah membeli televisi yang terlalu berlebihan, ukuran besar dengan konsumsi listrik yang besar. Mungkin anda akan mengatakan saya ingin menikmati hidup, kenapa saya tidak boleh beli televisi yang mahal? Boleh, anda boleh menikmati itu semua setelah anda kaya dan mencapai kebebasan finansial.

Ya, kita boleh menikmati gaya hidup yang kita inginkan tanpa terbatas jika anda sudah kaya dan mencapai kebebasan finansial. Sebelum kaya, anda perlu mencapai kebebasan finansial. Kebebasan finansial adalah suatu kondisi dimana pemasukan dari seluruh aset yang anda miliki lebih banyak daripada pengeluaran hidup dan pengeluaran dari seluruh liabilitas anda. Misalkan anda memiliki 3 rumah yang dikontrakkan (aset), dan 3 rumah tersebut bersih menghasilkan 60 juta/tahun, sedangkan pengeluaran bulanan anda total adalah 4 juta (48 juta/tahun), maka itu berarti anda sudah mencapai kebebasan finansial. Ya, kita perlu mencapai kebebasan finansial. Ketika kita sudah mencapai kebebasan finansial, maka hidup kita akan menjadi lebih baik dan bermakna. Anda dapat menjadi dan memilih hidup seperti apapun yang anda inginkan tanpa ada kekawatiran anda tidak bisa menghidupi keluarga. Anda ingin tidak bekerja sama sekali? Anda ingin mendharmakan hidup anda untuk agama dan sosial? atau anda ingin terus bekerja untuk menambah bekal anak atau untuk aktualisasi diri daripada menganggur? Anda ingin memperbesar bisnis dan aset anda? Semua bisa anda pilih dengan perasaan tenang ketika kebebasan finansial sudah anda capai. Bagaimana cara menjadi bebas finansial dan kaya? kuncinya adalah aset .. aset .. aset .. dan kurangi liabilitas .. liabilitas .. liabilitas. Mari sejak saat ini, kita lebih bijaksana dengan menekan nafsu untuk membeli liabilitas dan berusaha meningkatkan aset.

{[['']]}

Mengapa Kami Ingin Anda Kaya

Melalui Buku Mengapa Kami Ingin Anda Kaya, dua orang milyader yakni Donald J. Trump dan Robert T. Kiyosaki menerangkan kenapa beliau ini ingin anda kaya. Beliau adalah guru bagi mereka yang ingin berguru. Juga akan memberikan nasehat finansialnya. Dan menerangkan siapa dan harus bagaimanakah para pebisnis itu seharusnya. Semua jawabannya temukan saja dalam buku ini.

“Kita kehilangan kelas menengah kita, dan jumlah kelas menengah yang menciut adalah ancaman bagi stabilitas Amerika serta dunia demokrasi itu sendiri. Kami ingin Anda menjadi kaya sehingga Anda dapat menjadi bagian dari solusi, alih-alih bagian dari masalah.” – Donald J. Trump dan Robert T. Kiyosaki.

{[['']]}

Senja Di Himalaya

Senja di Himalaya adalah novel terjemahan dari The Inheritance of Loss karya penulis asal India Kiran Desai (37). Novel ini memenangkan Man Booker Prize for Fiction 2006. Penghargaan untuk novel terbaik sepanjang tahun yang ditulis oleh warga negara di negara persemakmuran Inggris dan Irlandia dimana novel tersebut harus diterbitkan dalam bahasa Inggris dan tidak dipublikasikan sendiri.

Novel ini merupakan sebuah kisah-kisah paralel yang berlatar India pasca-kolonial dan Amerika Serikat. Bersetting tahun 1980-an di perkampungan Kalimpong di pegunungan Himalaya, ceritanya berkisar pada beberapa tokoh utama dalam novel ini. Jemubhai Petel, atau yang dalam novel ini disebut ‘Sang hakim’ adalah laki-laki tua mantan hakim lulusan Cambridge yang kini menghabiskan masa pensiunnya di sebuah rumah tua yang diberi nama Cho Pyu bersama anjing kesayangannya dan seorang jurumasak setianya

Sai Petel, gadis berusia 16 tahun, cucu sang hakim yang menjadi yatim piatu karena kedua orang tuanya mengalami kecelakaan terpaksa harus meninggalkan sekolahnya dan tinggal bersama sang hakim di Cho Pyu. Di tempat kakeknya ini Sai jatuh hati pada Gyan guru les matematikanya , seorang mahasiswa Nepal dari sebuah perguruan tinggi ternama.

Tentu saja hubungan antara Sai dan Gyan tidak direstui oleh sang hakim karena perbedaan status, terlebih karena Gyan adalah orang Nepal, warga minoritas kelas dua dimata sang hakim. Walau awalnya Gyan mencintai Sai, namum Lambat laun sikap sang hakim dan Sai yang kebarat-baratan membuat Gyan membenci keduanya, apalagi kelak Gyan akan bergabung dengan kelompok separatis yang memperjuangkan kemerdekaan bagi bangsa Nepal.

Sementara itu ribuan kilometer dari Kalimpong yang terpencil, Biju, anak dari juru masak sang hakim sedang berjuang memperoleh kehidupan yang layak sebagai seorang imigran gelap di New York – Amerika Serikat. Biju tersaruk-saruk dalam belantara kota New York dan bekerja sebagai pelayan restoran secara berpindah-pindah untuk menghindari kejaran pihak imigrasi. Satu-satunya penghubung antara Biju dengan ayahnya hanyalah melalui surat menyurat. Biju tak pernah mengeluh apapun soal kehidupannya kepada ayahnya, sehingga ayahnya selalu menganggap Biju telah hidup sukses di Amerika.

Kehidupan di Kalimpong yang damai terusik ketika kelompok separatis Nepal berdemonstrasi utnuk memperjuangkan kemerdekaannya. Demonstrasi damai tiba-tiba berubah menjadi kerusuhan. Kekerasan merebak di seluruh Kalimpong. Jam malam diberlakukan. Kalimpong terputus dari dunia luar. Disaat kerusuhan inilah Biju akhirnya memutuskan untuk pulang ke India untuk menemui ayahnya.

Kerusuhan ini juga menyebabkan hubungan antara Sai dan Gyan yang tergabung dalam kelompok separatis Nepal menjadi goyah. Terpengaruh oleh pandangan kelompoknya dan sikap sang hakim dan Sai yang kebarat-baratan membuat Gyan membenci keduanya.

Kisah diatas ditulis oleh Kiran Desai dalam novelnya ini dengan gaya bahasa percakapan yang sederhana antar tokoh-tokohnya, namun Desai juga menampilkan setting pendukungnya seperti tempat, karakter dan latar karakter tokoh-tokohnya dengan sangat detail. Paradoks inilah yang oleh para juri Booker Man Prize 2006 dianggap mampu membelenggu pembaca untuk bersimpati pada tokoh-tokoh dengan konfliknya masing-masing.

Dari tokoh Sang Hakim / Jemubhai Petel, kita akan disodorkan pada sosok India yang sudah kehilangan identitas ke-indiaannya dan mengalami post power syndrome ketika telah pensiun karena dia menganggap dirinya lebih tinggi statusnya dibanding masyarakt sekitarnya.

Sai Petel, Biju dan Gyan mewakili tokoh generasi muda India yang gamang, mencari jati diri diantara pertentangan nilai-nilai barat dan timur, dan efek sosial dan psikologis yang dirasakan oleh mereka karena berada di wilayah ‘antara’ budaya barat dan timur.

Salah satu bagian yang menarik dari novel ini adalah karakter Biju dan deskripsi kehidupannya sebagai imigran gelap di Amerika. Melalui karakter Biju kita akan mengetahui bagaimana para pemuda India sebagian besar beranggapan bahwa Amerika adalah tanah impian untuk meraih kesuksesan. Karenanya mereka berjuang mati-matian untuk memperoleh Green Card. Bagaimana Biju berjuang untuk memperoleh Green Card sangat menarik dan penuh dengan humor yang getir.

Ketika Green card gagal diperoleh, Biju dan sebagian besar kawan-kawannya tetap berangkat ke Amerika dengan cara illegal. Resikonya mereka harus pandai-pandai menyembunyikan diri dari pihak imigrasi Amerika. Atau kalau perlu mereka akan menikahi nenek-nenek warga Amerika guna memperoleh kewarnganegaraan Amerika. Selain itu, mereka yang telah berhasil tinggal di Amerika harus berusaha menghindar teman-teman sekampungnya yang baru datang ke Amerika karena khawatir mereka akan ditumpangi dan menimbulkan kesulitan baru ditengah kehidupan mereka yang sudah sedimikian sulit.

Seperti umumnya novel-novel peraih penghargaan sastra internasional, novel ini bukan novel yang mudah untuk dikunyah. Alur kisah tokoh-tokohnya tidak linier, kadang mundur jauh kebelakang lalu kembali lagi ke masa kini, sehingga perlu konsentrasi ekstra untuk membacanya. Kisahnyapun seakan hanya berputar-putar pada kehidupan tokoh-tokohnya, tak heran pembaca yang kurang sabar akan merasa jenuh dan tak tahan untuk menamatkan novel ini.

Ternyata kesulitan untuk menikmati novel inipun diakui oleh Kiran Desai sendiri. Dalam wawancaranya dengan wartawan Tempo - Angela Dewi (Koran Tempo, 28 Okt 2007), ketika Angela dengan jujur mengungkap bahwa ia butuh waktu berbulan-bulan untuk menyelesaikan novel ini. Dengan tertawa Desai menyatakan, “Anda pembaca ke seribu yang berkata seperti itu”.

Menurut Desai novel keduanya ini yang dikerjakannya selama 7 tahun ini adalah hasil dari coretan-coretan panjang pada kertas setebal 1500 halaman dengan konflik yang lebih kompleks dari novel jadinya. Dan sebagian dari apa yang dikisahkannnya merupakan pengalaman pribadinya. Rumah Cho Oyu di Kalimpong memang benar-benar ada dan Desai pernah menginap selama beberapa hari disana.

Dengan kompleksitas pada novelnya ini Desai tampaknya mencoba menangkap makna hidup di wilayah antara timur dan barat dan bagaimana rasanya menjadi imigran. Apa jadinya sesuatu yang bukan barat diberi sentuhan dan terpapar pada hal-hal berbau barat. Apa jadinya jika orang-orang yang biasa hidup dalam kemiskinan tiba-tiba berada di negara yang kaya. Hal yang sebenarnya sudah terjadi saat kolonial Inggris menyentuh India, lalu sekarang terjadi lagi saat Amerikanisasi mulai menyentuh kehidupan orang India.

{[['']]}

Taj: Sebuah Monumen Cinta nan Abadi

Masa lalu adalah prolog bagi masa kini. Peristiwa-peristiwa tragis yang terjadi tiga ratus tahun yang lalu masih terus bergaung di India modern. Konflik berkepanjangan antara orang-orang Hindu dan Muslim-dan pembentukan negara Pakistan-kemungkinan besar disebabkan oleh tindakan Aurangzeb, anak lelaki Shah Jahan dan Arjumand.

Semua karakter dalam novel ini- kecuali Murthi, Sita, dan anak-anak mereka benar-benar hidup tiga abad yang lalu, tetapi aku yakin bahwa seorang lelaki seperti Murthi pernah hidup dan wafat saat membangun Taj Mahal, bersama-sama dua puluh dua ribu orang lain.

Ada seorang lelaki bernama Isa yang berjalan di bawah bayang-bayang Mughal Agung Shah Jahan. Selain namanya, tidak ada lagi kisah tentangnya yang bisa diketahui.
Saat dibangun, makam akbar di Agra disebut Mumtaz Mahal.

Tetapi, berabad-abad kemudian, karena erosi waktu dan kenangan, bangunan itu hanya dikenal dengan nama Taj Mahal. Jali, tabir, yang mengelilingi sarkofagus Arjumand dan Shah Jahan dikenal sebagai hasil karya ukiran terbaik di seluruh India.

Dalam novelku, bab-bab yang bernomor ganjil menceritakan tahun 1607-1630, dan merupakan kisah kehidupan Shah Jahan dan Arjumand: kisah cinta mereka, pernikahan mereka, dan penobatan resmi Shah Jahan sebagai Mughal Agung. Bab-bab bernomor genap mengungkapkan kisah dan 1632-1666 dan mendeskripsikan tahun-tahun kekuasaan Shah Jahan setelah itu: pembangunan Taj Mahal, kisah Murthi, dan pemberontakan Aurangzeb terhadap ayahnya. Selain itu, diberikan juga tanggal berdasarkan sistem kalender Islam tradisional, tahun Hijriyah.

{[['']]}

Sang Raja Jin

Sang Raja Jin berkisah tentang tujuh petualang mistik yang dilatari sejarah tua peninggalan Nabi Sulaiman. Ketujuh petualang mistik ini menjadi "retakan" penting yang terus dirawat dalam benak Ishaq. Mereka adalah Ali, Rami, Rebecca, Kapten Simach, Profesor Freeman, Si Faqir,dan Ishaq. Dalam novel ini Ishaq adalah seorang juru tulis yang terus mendokumentasikan segala peristiwa yang terjadi. Ishaq tak lain adalah Karchmar itu sendiri.

Latar kisah kenabian Sulaiman menjadi magnet yang misterius dan mengundang rasa penasaran. Kisah Raja Sulaiman memang menyisakan misteri berkepanjangan. Sampai saat ini harta karun peninggalan Nabi Sulaiman masih dipertanyakan keberadaannya. Raja penguasa angin, dunia binatang, jin, ilmu, dunia jin, ataupun kisah Ratu Sheba yang melingkupi adalah kisah yang melegenda.

SINOPSIS 
Konflik cerita bermula saat Kapten Simach menemukan silinder yang terbuat dari emas berisi gulungan papirus bertuliskan huruf alfabet Yahudi kuno. Temuan yang membuatnya gelisah ini memaksa Profesor Freeman turut terlibat. Freeman mencoba menyibak misteri ini lewat keahlian arkeologi purbanya. Namun, rasionalitas ilmuwan ini tak sanggup untuk menerjemahkan teka-teki ini, hingga menyeret ketujuh orang ini ke "jalan badai". Demikian sebutan Irving untuk menunjuk sebagai jalan nyata yang harus ditempuh dan penuh ujian.

Sesungguhnya, petualangan berat yang menyeret ketujuh insan ini ke kota purba yang sejaman dengan Sulaiman sarat kejutan, ketegangan, dan hikmah yang dalam. Si Faqir, sang pemandu misterius, ternyata adalah Ornias, jin-bertaring pencuri permata semasa Sulaiman. Jin yang nekat menyamar sebagai seorang manusia. Inilah kejutan Karchmar pada pembaca, sekaligus menyisakan pertanyaan: mungkinkah sosok jin bisa menjelma menjadi manusia dan memandunya menuju "jalan cinta".

Kehadiran Syekh Haadi sebagai wali Qutb beserta ketujuh muridnya memberikan cahaya terang di dunia jin—Kota Jinnistan dan reruntuhan Tadmor. Dunia gelap penuh keputusasaan tempat Baalzeboul, Raja Jin
berpangku tangan, muncul setitik harapan, yakni ajakan bertobat lewat "jalan cinta". Jalan ini bukan hanya milik manusia saja, namun semua makhluk-Nya, termasuk jin (hlm. 261).

Barangkali bagi pembaca awam yang kurang memahami dunia tasawuf akan sedikit terbantu mengenali tradisi ini lewat deskripsi penulis; baik pada lembaran awal ataupun dalam glosari. Novel yang dimulai dari halaman sepuluh ini disisipi taburan puisi ataupun kutipan-kutipan bijak dari para sufi, filsuf, ataupun ayat-ayat suci. 

Dunia para darwis atau sufi bisa Anda tangkap dari latar penggambaran Karchmar. Lingkaran persaudaraan mistik kentara nampak pada lima lembar awal novel ini. Tanpa sebuah basa-basi panjang, Karchmar segera mengajak pembaca mengenali dunia para darwis. Novel ini memiliki prolog pendek dan mengundang rasa penasaran yang mendalam: misteri.

{[['']]}

Stephanie Meyer - Twilight

Twilight, novel terjemahan karya Stephenie Meyer ini benar-benar lagi trend. Mengisahkan perjalanan cinta seorang gadis yang pemalu dan tak banyak bergaul bernama Isabella Swan. Dia baru saja pindah dari Phoenix ke kota kecil, Forks yang sering mendung.

Di sekolahnya yang baru (SMA), Bella bertemu dengan Edward Cullen, lelaki tampan seumuran dengannya.
Saat pertama kali bertemu, Bella mendapat kesan bahwa Edward membencinya entah mengapa. Dari situ, Bella mulai menyelidiki siapa Edward sebenarnya dan ia mulai mendapat kejutan bahwa Edward adalah seorang vampir. Bahkan keluarga Edward adalah vampir semua.

Walaupun Bella sudah tahu hal ini, diam-diam rasa cinta mulai tumbuh di antara mereka berdua. Mereka mulai terlibat dalam cinta terlarang yang benar-benar berbahaya.

Bagaimanakah kelanjutan kisah mereka? Yang jelas, mereka pasti bertahan, kan mereka tokoh utamanya....
Twilight ini merupakan bagian pertama tetralogi Twilight. Buku kedua berjudul New Moon, yang ketiga berjudul Eclipse, dan yang terakhir Breaking Dawn. Tak sampai sebulan lagi, kita bisa melihat film Twilight dalam layar lebar.

{[['']]}

Stephanie Meyer - New Moon

Novel ini adalah kelanjutan dari Twilight karya Stephenie Meyer. Masih sama seperti Twilight, dalam New Moon dikisahkan hubungan cinta Bella dan Edward yang makin dekat dan mesra. Pada awal-awal cerita, keduanya terus bersama dan tak terpisahkan. Hingga pada hari ulang tahun Bella yang ke-17, Bella mulai merasa dirinya bertambah tua dan akhirnya ia takut akan kehilangan Edward.

Untuk merayakan ulang tahun Bella, Edward mengajaknya ke rumah. Saat acara buka kado, jari Bella teriris kertas kado tersebut sehingga berdarah dan menimbulkan amarah Jasper, salah seorang kakak lelaki Edward. Jasper masih belum bisa mengendalikan dirinya bila mencium darah, tak seperti saudara-saudaranya yang lain. Jasper malah hampir membunuh Bella karena insiden itu. Beruntung Edward menyelamatkan Bella.

Sejak hari itu, Edward mulai menyadari bahwa kehadirannya tidak selamanya membawa kebaikan bagi Bella. Maka Edward memutuskan untuk pergi dari kehidupan Bella.

Bella yang ditinggalkan Edward sendiri, mulai menjalani hari-harinya dengan kesepian. Teman-teman sekolahnya sudah menjauhi dirinya sejak ia dekat dengan Edward. Sebagai tempat pelarian, Bella selalu mencari Jacob Black, anak dari kawan ayahnya, Charlie.

Jacob sendiri sangat senang dengan kehadiran Bella. Sudah dari dulu Jacob menyimpan perasaan cinta pada Bella, namun hal itu tak pernah diungkapkannya. Bella juga sepertinya sangat menikmati kebersamaannya bersama Jacob.

Namun lagi-lagi sayang. Kebersamaan mereka tak berlangsung lama, setelah Jacob mengetahui kenyataan bahwa dirinya adalah seorang werewolf, musuh bebuyutan vampir. Perlahan Jacob mulai menjauhi Bella, karena takut dirinya akan melukai Bella.

Bella pun makin terluka melihat dua orang yang dicintainya mulai menjauh dan makin membuat Bella menderita.

Siapakah yang akan dipilih oleh Bella?
Edward, seorang vampir yang amat dicintainya, ataukah Jacob, seorang werewolf yang amat disayanginya...
Novel kedua Stephenie Meyer ini patut dibaca mengingat Twilight sudah begitu meledak di pasaran. Nantikan ending yang tak terduga dan pertarungan sengit dalam hati Bella memperjuangkan cintanya.

{[['']]}

Stephanie Meyer - Enclipse

Novel ini seri ketiga dari tetralogi Twilight. Masih sama seperti dua novel sebelumnya, Stephenie Meyer mengajak para pembaca untuk menikmati kisah cinta Isabella Swan degan seorang vampir bernama Edward Cullen. Tahun ini adalah tahun terakhir Bella di masa SMA-nya. Bella mengirimkan biodatanya di berbagai universitas, begitu pula dengan Edward. Edward memilih di University of Alaska dengan alasan kurangnya sinar matahari di daerah sana. Bella pun juga ikut mendaftar di sana dan sudah diterima.

Namun ada lagi hal-hal kecil yang menyebabkan masalah. Jacob Black, werewolf yang merupakan sahabat BElla, masih terus berjuang untuk mendapatkan cinta Bella. Bella sendiri tak mampu menahan godaan Jacob dan jadilah Bella terbagi menjadi dua, antara Bella-nya Edward dan Bella-nya Jacob.

Masalah lagi datang dari Victoria yang sudah dari setahun yang lalu menyimpan dendam pada Bella karena Edward membunuh James dalam pertarungan antar vampir. Victoria ternyata mengirimkan vampir-vampir baru demi memuluskan misinya. Keselamatan Bella lagi-lagi terancam karena berhembusnya isu akan datangnya keluarga Volturi. Keluarga ini adalah bangsawan di kalangan vampir dan amat disegani. Dalam seri New Moon, keluarga Volturi berambisi menjadikan Bella vampir, karena Bella dianggap mengetahui banyak tentang vampir.

Bella yang terancam nyawanya pun bingung, apakah memilih jadi vampir adalah keputusan yang tepat? Di tengah-tengah himpitan masalah yang ada, kawanan werewolf dan vampir akhirnya mau bersatu demi melindungi Bella.

Tak lama kemudian, Edward melamar Bella untuk menikah dengannya. Apakah akhirnya Bella bersedia mengingat kebimbangannya akan masa depan? Manusia atau vampir? Edward atau Jacob? Masih banyak hal-hal kecil lainnya yang akan dihadapi Bella dalam seri Eclipse ini.

Bila sudah membaca dua seri sebelumnya, tak pantas rasanya bila melewatkan seri Eclipse ini. Stephenie Meyer makin matang dalam mengungkapkan karakter Bella. Kita tunggu seri terakhir dalam tetralogi Eclipse ini. Tentunya para pencinta buku tak sabar untuk segera membaca seri Breaking Dawn.

{[['']]}

Stephanie Meyer - Breaking Dawn

Breaking dawn merupakan buku keempat dari twilight saga yang ditulis oleh Sthepanie Meyer dan awal yang baru bagi sang tokoh utama yaitu Isabella Swan atau akrab dipanggil dengan nama Bella Swan. Novel ini terbit di Indonesia sekitar bulan januari 2009. Di negara aslinya, USA, buku Breaking Dawn dengan rekor penjualan di hari pertama launching-nya mencapai 1,3 juta eksemplar. Novel ini juga berhasil difilmkan oleh sutradara, Bill Condon. Itu merupakan ending dari novel tetralogi twilight saga. Setelah Twilight, New Moon dan Eclipse dan. Breaking Dawn melengkapi kisah cinta antara vampir dan manusia ini. Bella Swan dan Edward Cullen. Novel yang terdiri dari 864 halaman. Sang penulis Stephenie Meyer membagi novel ini menjadi 3 sudut pandang, yaitu : buku pertama Bella , buku kedua Jacob dan buku ketiga Bella.

Pada buku pertama dengan sudut pandang Bella diawali dengan kisah pernikahannya dengan sang kekasih Edward Cullen. Di buku pertama ini banyak sekali cerita-cerita romantis yang terjadi antar Bella dan Edward dan hamper seperti kisah dongeng. Dipernikahannya Bella didandani oleh saudara perempuan Edward, Alice dan Rosalie, dengan cantik dan super anggun. Dan ayah Bella, Charlie, juga didandani oleh mereka. Mereka – mereka yang datang ke acara pernikahan Bella dan Edward yaitu keluarga Bella dan Edward tentunya, keluarga besar werewolf, Keluarga besar vampire, dan teman-teman sekolah mereka. 

Para undangan yang hadir pun tampak ikut larut dalam kebahagiaan pernikahan mereka ini. Setelah mereka berdua melangsungkan pernikahan, mereka lanjut berbulan madu di pulau esme. Pulai esme merupakan hadiah pemberian dari ayah Edward, Carlise, untuk Ibu Edward, Esme. Pulau kecil tersebut terletak di dekat Rio de janerio dan hanya berisi sebuah pondok mewah nan eksotis milik keluarga Cullen sebagai hadiah bulan madu Bella dan Edward. Selama bulan madu tersebut mereka berdua melakukan aktivitas menyelam, bermain catur dll. 2 minggu kemudian ada kejadian aneh yang sedang di alami oleh Bella. Kejadian aneh itu adalah nafsu makan Bella bertambah, tidur diatas normal dll. Apa yang terjadi pada Bella selanjutnya ? ya, ternyata Bella hamil !!!

Pada buku kedua dengan sudut pandang Jacob. Disini diceritakan tentang ketegangan selama kehamilan dan proses kelahiran bayi Bella dan Edward dan juga menyinggung masalah 
kawanan werewolf yang menentang kehadiran bayi dalam perut Bella. Dan Jacob selaku sahabat Bella selalu melindunginya selama proses kehamilan itu. Selama itu juga Bella mengalami penderitaan karena bayi yang dikandungnya terus merusak sedikit demi sedikit anggota tubuhnya. Bayi itu sangat kuat. Kemudian 1 bulan kemudian bayi itu keluar dari rahim Bella dan ternyata berjenis kelamin perempuan dan di beri nama Renesmee.

Pada buku ketiga dengan sudut pandang Bella. 3 Disini dicerita setelah melahirkan Renesmee, dikabarkan bayi tersebut adalah bayi abadi. Bayi abadi ini sangat membahayakan kehidupan vampire dan melanggar penguasa vampir yaitu Volturi. Dugaan ini datang dari Irina yang merupakan bagian dari kelompok vampir Tanya. Irina melaporkan kelahiran Renesmee kepada Volturi, dan kemudian Volturi berencana untuk membuh bayi dan keluarga Cullen tersebut. Mendengar kabar ini keluarga Cullen dan dibantu oleh Jacob mengumpulkan bukti bahwa sebenarnya Renesmee ini bukanlah bayi abadi dan sama sekali tidak membahayakan kehidupan para vampir. Akhirnya Volturi dapat diyakinkan bahwa memang benar Renesmee bukanlah bayi abadi, dan akhirnya tidak jadi membunuh Renesmee

Menurut saya, novel ini sedikit membosankan di tengah-tengah cerita tetapi menarik juga untuk dibaca dan sang penulis juga pintar dalam membuat pembaca penasaran dengan kelanjutan kisahnya. Namun begitu, Banyak hal yang menarik yang diceritakan dalam novel Breaking Dawn ini. Kisah Cinta yang tulus, cinta sejati dan romantis. Berbagai karakter tokoh dengan masing-masing bakat uniknya digambarkan dalam novel ini. Suasana yang digambarkan dalam novel ini jelas, sehingga para pembaca dapat dengan mudah berimajinasi melalui cerita yang dikisahkan dan diakhiri dengan happy ending J.

{[['']]}

Gajah Mada - Hamukti Palapa (03)

Entah ilham dari mana yang merasuki jiwa dan pikiran Gajah Mada hingga ia begitu terobsesi untuk mengikat serakan pulau yang sedemikian banyak dan luas dalam wadah Nusantara di bawah panji¬panji Majapahit
Entah keteguhan macam apa yang dimiliki Gajah Mada hingga tanpa keraguan sedikit pun ia berani bersumpah untuk meninggalkan segala kesenangan hidup dan menjalani penderitaan tanpa ujung sampai sumpahnya mewujud dalam kebesaran Majapahit.

Bahkan, Indonesia berutang pada sumpah sang Mahapatih ini dengan mewarisi keluasan wilayah yang dulu berhasil dipersatukannya di dalam negara Majapahit. Untaian zamrud khatulistiwa yang sekarang kita banggakan sebagai Indonesia adalah jejak keberhasilan yang ditinggalkan Gajah Mada.

Sumpah Palapa begitu magis dan mencengangkan. Betapa tidak, ketika ditelisik perjalanan hidupnya, Mahapatih Amangkubumi Gajah Mada ternyata awalnya bukan siapa-siapa dan mengawali kariernya dari tataran paling bawah. Namun, loyalitas dan totalitas pengabdian pada negara yang bermuara pada keberaniannya mengucapkan sebuah sumpah sekaligus mengejawantahkan sebuah gagasan yang cerdas, progresif, dan revolusioner mengantarkannya meraih puncak pencapaian politiknya.

Gajah Mada, Hamukti Palapa, inilah kisah yang menggetarkan. Ambisi kekuasaan bertaut dengan kisah masa silam, teka-teki, dan misteri hilangnya benda-benda pusaka istana (cihna nagara, songsong Udan Riwis, dan mahkota yang dimitoskan sebagai sarang wahyu kedaton) menjadikan kisah ini begitu hidup, naik turun, dan tentu saja memikat. Selamat bertualang di padang imajinasi dalam bingkai kesejarahan.

{[['']]}

Gajah Mada - Bergelut Dalam Kemelut Tahta Dan Angkara (02)

Perebutan kekuasaan dan intrik-intrik politik di tataran elite yang akhirnya menjebak rakyat yang tidak berdaya menjadi korban ternyata bukan persoalan aktual yang baru muncul sebagai persoalan manusia modern. Bahkan berabad yang lalu, ketika Majapahit dengan megah bertakhta di tanah Jawa, konspirasi politik tingkat tinggi pun telah dengan kompleks menjadi bagian realitas kehidupan di dalamnya. 

Makar Ra Kuti berhasil diberangus. Waktu telah berlalu sembilan tahun hingga luka-luka yang ditimbulkan akibat nafsu kuasa yang tak terkendali dari para Dharmaputra Winehsuka dapat disembuhkan dan kesejahteraan kawula dipulihkan. Akan tetapi, lakon Gajah Mada masih sangat jauh dari tuntas. Karena godaan kekuasaan yang menyebabkan rusaknya tatanan, sekali lagi terjadi, memupus perjalanan hidup Jayanegara dan kembali membenamkan Gajah Mada ke dalam arus deras perebutan kekuasaan atas singgasana Majapahit. 

Bagaimana sepak terjang sang kesatria Gajah Mada dalam menyelamatkan Majapahit dari kehancuran? Konflik-konflik macam apa yang mewarnai perebutan kekuasaan atas Majapahit sepeninggal Jayanegara? Pihak-pihak mana saja yang ikut bermain di dalamnya? Kembali Langit Kresna Hariadi (dengan segala kepiawaiannya) menuturkannya untuk Anda. 

Sebagaimana pendahulunya (Gajah Mada), Gajah Mada, Bergelut dalam Kemelut Takhta dan Angkara ini bukan sekadar cerita yang tumbuh dan besar dari ranah imajinasi. Sebagai karya sastra, novel ini mempunyai kekuatan yang sangat menjebak, tidak hanya dalam arti memberi keasyikan imajinatif dalam menikmati, tetapi hasil dari proses membaca pun akan begitu mengagetkan. Novel ini berkesanggupan ”memaksa” pembaca untuk ikut terlibat secara langsung dalam jalinan cerita di dalamnya, memecahkan teka-teki yang tersaji, dan membuka simpul misteri atas apa yang terjadi.

Detail-detail sejarah yang diramu sedemikian apik tanpa kesan menggurui masih juga menjadi kekuatan dari novel ini. Gajah Mada, Bergelut dalam Kemelut Takhta dan Angkara yang begitu kaya perspektif (historis, sosiologis, antropologis), namun dituturkan dengan begitu cair adalah media yang sangat atraktif yang mampu membawa pembaca untuk berwisata dan lebur dengan zaman lampau serta menghayati kembali peristiwa-peristiwa penting dalam perjalanan sejarah Majapahit. Jadi, meskipun novel ini dibaca tanpa pretensi untuk belajar hasil akhirnya akan sangat memperkaya wawasan. 

Terima kasih tak terhingga kami ucapkan kepada Anda, yang telah memberikan apresiasi yang sangat baik terhadap Gajah Mada, novel terdahulu kami, dan sangat antusias menunggu kelanjutan kisahnya. Kepada Andalah Gajah Mada, Bergelut dalam Kemelut Takhta dan Angkara ini kami persembahkan.

{[['']]}

Gajah Mada (1)

Sejarah adalah guru kehidupan. Sosoknya yang usang justru kerap memberi ilham pencerahan. Pembacaan atas sejarah dapat mempertemukan manusia dengan segenap kearifan. Pada titik paling spektakuler, sejarah yang terangkum dalam karya Ilahiah bernama kitab suci, bahkan mampu mengantarkan manusia tunduk di haribaan Tuhannya atas nama keimanan. 

Fiksi, sebagai karya seni boleh saja lahir dan besar dari ranah imajinasi. Akan tetapi, arti penting karya fiksi bagi pembentukan dan pelestarian peradaban tidak dapat dikecilkan hanya karena ia menyandang label sebagai buah imajinasi.

Imajinasi dalam novel-novel Jules Verne mampu membimbing ilmuwan semacam J.D. Watson menemukan DNA, Auguste Pichard menemukan lampu neon. Penemuan-penemuan lain seperti balon udara, kapal selam nuklir, hujan buatan, dan rudal, sedikit banyak berutang pada imajinasi Verne. 
Keteguhan pada komitmen-komitmen moral yang kemudian diekspresikan melalui karya fiksi jualah yang membuat orang-orang semacam Pramudya Ananta Toer, Gao Xingjian, dan Boris Pasternak tergusur dari kesempatan menjalani hidup secara wajar. Atas nama karya fiksi tokoh-tokoh ini harus rela hidupnya dinistakan dengan segala kenelangsaannya.

Sejarah dan fiksi, dua hal besar, penting, kadang ekstrem, bahkan tidak masuk akal. Lantas, kemungkinan seperti apa yang bakal lahir dari sintesis dua hal dahsyat ini? Pasti, bukan hal yang remeh-temeh, apalagi kosong.

Gajahmada dan Majapahit adalah ikon yang akan selalu hadir dalam pentas sejarah panjang perjalanan bangsa ini. Hanya, barangkali tidak terlalu banyak yang mengetahui bahwa di balik dua nama besar ini tersimpan kisah amat memesona, penuh gejolak, dan menggugah.

Fakta sejarah inilah yang ditautkan dengan fiksi sehingga lahir sebuah epos berjudul Gajahmada. Eksplorasi kesejarahan ini akan mengabarkan kepada Anda bahwa nama besar Majapahit bukan hanya terbangun karena luas wilayahnya, ketangguhan Gajahmada, pemerintahan Raden Wijaya, atau Jayanegara. Di balik segala kemegahan itu ada pasukan elite bernama Bhayangkara yang sumbangsihnya membuat kita mengenal Majapahit dengan segala kebesarannya seperti sekarang ini.

Semoga karya ini mampu menjadi ”teman” bagi Anda yang ingin melakukan pembacaan sejarah dan menghikmati kearifan di dalamnya karena hidup manusia mestinya adalah sebuah hidup yang menyejarah.

{[['']]}

Mana Yang Lebih Banyak, Orang Hidup atau Orang Mati?

Mana Yang Lebih Banyak, Orang Hidup atau Orang Mati?Mengapa Rambut Menjadi Uban? dan 112 Pertanyaan Lain. Ebook ini berisi kumpulan tanya-jawab tentang banyak perkara remeh yang jawabnya tidak akan ditemukan dalam buku ajar atau diklat kuliah mana pun.

Mengapa rambut kita menjadi uban?
Mengapa telur tidak bulat, pun tidak persegi?
Mengapa pisang tidak boleh masuk kulkas?
Matahari semakin uzur, berapa lama lagi umur bumi?
Mengapa kita menangis sewaktu mengiris bawang?
Mengapa kantung keresek selalu berisik?
Mengapa ikan tidak kentut?
Apakah kidal itu sial?
Mengapa orang tidak tertawa ketika menggelitik diri sendiri?
Apa bunyi berderak pada persendian kita?
Adakah hubungan antara kedinginan dan masuk angin?
Dan banyak pertanyaan lain…

{[['']]}

Diplomasi Munafik Ala Yahudi

Konflik Arab-Israel sarat dengan konsekuensi-konsekuensi yang mendatangkan malapetaka bagi Amerika Serikat, dan kebanyakan dari kesulitan itu adalah karena ulahnya sendiri. Akibat buruknya jauh melampaui beban finansial dan ekonomi yang tercipta karena pemerintah Amerika Serikat terus menyumbangkan bermilyar-milyar dollar setiap tahun kepada Israel dan menghamburkan hasil pajak serta perdagangan untuk kepentingan negara itu. Konsekuensi terburuknya terletak pada kolusi Amerika Serikat dalam pelanggaran atas hak-hak asasi manusia yang mengerikan dan telah berlangsung lama, yang dilakukan Israel dalam skala luas.

Amerika Serikat mempertahankan peranan kunci dalam kontrol dan pemerasan Israel atas wilayah-wilayah yang dikuasai Tepi Barat, Jerusalem Timur, jalur Gaza, Lebanon Selatan, dan Dataran Tinggi Golan --yang kesemuanya adalah tanah milik bangsa Arab. Pemerintah Amerika Serikat terus memberikan dukungan finansial, diplomatik, dan militer sementara Isreal terus melanggar hukum-hukum internasional, menjalankan pemerintahan militer yang keras dan sering kali brutal atas hampir dua juta bangsa Arab, dan menutupi semua ini di balik perisai penipuan yang cermat.

Di samping bangsa Arab yang menderita, kerugian utama dari kolusi ini adalah nama baik Amerika di Timur Tengah. Rasa hormat kepada Amerika Serikat --yang pernah tertanam dalam-dalam dan tersebar luas di kalangan bangsa Arab maupun Israel-- tercampak sia-sia akibat ambisi para politisi Amerika Serikat yang memalukan dan tak habis-habisnya demi memenangkan simpati kelompok-kelompok pro Israel.

Kolusi itu tampak jelas dalam standar ganda yang diterapkan pemerintah Amerika Serikat dalam pelaksanaan resolusi-resolusi Dewan Keamanan PBB yang berkaitan dengan masalah Timur Tengah.

Ketika Irak menyerang dan mencaplok Kuwait pada 1990, Amerika Serikat mengorganisasi dan memimpin suatu serangan militer multinasional besar-besaran untuk membalas penaklukan itu di bawah sanksi PBB. Sebaliknya, pemerintah Amerika Serikat tidak berbuat apa-apa kecuali mengemukakan sepatah dua patah kata kecaman ketika Israel melakukan pelanggaran-pelanggaran besar terhadap hukum internasional.

Misalnya, Dewan Keamanan PBB telah memerintahkan Israel untuk menarik diri dari tanah bangsa Arab yang direbutnya bertahun-tahun lalu lewat tindak kekerasan bersenjata, mengutuk pencaplokan Israel atas Jerusalem Timur dan Dataran Tinggi Golan dan pembangunan perumahan bangsa Israel di wilayah-wilayah pendudukan, dan, yang paling mutakhir, pada 18 Desember 1992, menuntut agar Israel membatalkan pengusiran atas 413 orang Palestina (Resolusi Dewan Keamanan PBB no. 799).

Bukannya memimpin masyarakat internasional dalam aksi kekuatan politik, ekonomi, atau militer-untuk mengamankan tuntutan dewan agar Israel membatalkan pengusiran itu, Amerika Serikat justru bertindak sebaliknya. Ia meneruskan tanpa henti aliran bantuan finansial dan militer tanpa batas kepada negara penyerang tersebut. Pada waktu yang hampir bersamaan, tepat sebelum pelantikan Presiden Bill Clinton pada Januari 1993, pemerintahan Bush, sebagai tanggapan atas tindak pelanggaran yang jauh lebih kecil, memulai suatu kampanye militer melawan Irak karena pelanggarannya atas zona larangan terbang pasca perang. Raja Fahd dari Saudi Arabia menyesalkan standar ganda ini: resolusi-resolusi Dewan Keamanan PBB, tegasnya, "harus dihormati dan dilaksanakan, entah itu menyangkut situasi di wilayah Teluk atau dalam kasus Palestina..."(1)

Nama baik Amerika Serikat terancam bahkan di Israel sendiri, di mana semakin banyak warganya yang beranggapan bahwa penerapan standar ganda Amerika Serikat merupakan penghalang bagi perdamaian. Mereka percaya bahwa dengan tidak adanya aliran bantuan finansial dan militer tanpa syarat dari Amerika Serikat, pemerintah mereka sejak jauh-jauh hari pasti telah menarik pasukannya dari wilayah-wilayah pendudukan dan menjalin hubungan yang normal dan damai dengan negara-negara Arab.

Kesulitan Amerika Serikat akan semakin menjadi beban dan ancaman ketika konflik Arab-Israel semakin meningkat, dengan tidak adanya perdamaian. Pusat konflik itu adalah pertemuan antara pengaruh-pengaruh agama, ekonomi, politik, dan militer yang sangat kompetitif, yang kesemuanya menyangkut kepentingan-kepentingan vital Amerika Serikat. Kepentingan-kepentingan itu mengangkangi dua pihak dan tidak dapat dicapai hanya dengan berpihak pada bangsa-bangsa Arab atau Israel saja.

Hanya Amerika Serikat yang mempunyai sumber-sumber yang diperlukan untuk menjaga kerja sama dari semua partai utama dalam konflik itu. Namun untuk bertindak secara efektif Amerika Serikat pertama-tama harus mengatasi dua penghalang besar, yang keduanya bersumber dari dalam negeri. Pertama, pengaruh besar yang dilancarkan oleh kepentingan-kepentingan pro Israel dalam perumusan kebijaksanaan Amerika Serikat di Timur Tengah. Kedua, topeng buatan yang secara polos dianggap oleh hampir semua orang Amerika sebagai Israel yang sejati. Para pendukung Israel memanfaatkan citra yang menyesatkan itu dengan sangat tangkas dalam program mereka untuk mempertahankan kolusi Amerika Serikat-Israel.

Jalan menuju suatu perdamaian yang adil di wilayah itu tidak mungkin dapat tampil dalam fokus yang jelas sebelum citra rekaan mengenai Israel dibongkar dan dijernihkan. Penilaian-penilaian yang tepat mengenai kebijaksanaan Amerika Serikat di masa mendatang harus didasarkan atas realitas, bukan omong kosong. 
Mereka harus mempertimbangkan informasi yang paling lengkap dan akurat yang ada, termasuk profil yang tak memihak tentang Israel, dan melangkah dari penerimaan murni atas tanggung jawab yang dipikul Amerika Serikat bagi tindakan-tindakan Israel di masa lalu dan di masa sekarang.

Buku ini, saya yakin, dapat memenuhi kebutuhan kritis itu. Dengan membacanya, Anda akan ikut merasakan suatu pengalaman yang menggelisahkan: suatu pencarian panjang akan laporan yang meliputi perilaku ekspansionis dan struktur sosial Israel yang diskriminatif. Perjalanan itu sangat sulit, sebab kebenaran sering kali sukar ditangkap. Dalam hal ini, ia harus dipilih di antara begitu banyak informasi yang telah diterbitkan mengenai hubungan Amerika Serikat dengan Israel dan bangsa Palestina, yang kebanyakan keliru dan harus dibersihkan dari prasangka. Di samping itu, media populer-koran, buku, artikel, drama televisi dan film dokumenter, serta film layar lebar-sering kali hanya membicarakan sisi heroik sejarah Israel dan perilaku mutakhir, dengan mengabaikan atau menyembunyikan pelanggaran-pelanggaran yang terus dilakukannya atas hak-hak asasi manusia, kebijaksanaan ekspansionisnya, serta pelanggaran hukum internasional. (Misalnya, novel Leon Uris yang sangat populer pada 1950-an, Exodus, sesungguhnya didukung perusahaan humas New York milik Edward Gottlieb untuk "menciptakan sikap yang lebih simpatik terhadap Israel." Sebagai seorang ahli humas, Art Stevens menyimpulkan: "Novel itu lebih dapat mempopulerkan Israel kepada publik Amerika dibanding semua tulisan lain melalui media massa." (2) )

Saya kemukakan di sini suatu pengalaman unik dalam politik Timur Tengah. Saya bertugas selama dua puluh dua tahun sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat Amerika Serikat, dua belas tahun di antaranya di Departemen Luar Negeri Subkomisi Eropa dan Timur Tengah. Sepanjang tahun-tahun itu saya sering mencela pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan Israel atas hak-hak asasi manusia dan agresi militernya, namun saya tidak pernah sekali pun memberikan suara menentang undang-undang yang memberikan sarana pada Israel untuk melaksanakan tindakan-tindakan salah tersebut. Dalam beberapa kesempatan saya mendesak pemerintahan Carter untuk menunda semua bantuan, tapi ketika keputusan dibacakan di dalam komisi dan di majelis DPR mengenai undang-undang dasar bagi bantuan, saya selalu setuju. Ketika kini saya menyesali kemunafikan untuk meneruskan bantuan Amerika Serikat kepada Israel sementara mengecam pelanggaran-pelanggarannya atas hak-hak asasi manusia, saya merenungkan ulah saya itu dengan sedih.

Tahun-tahun yang saya jalani sebagai anggota kongres memberi saya untuk pertama kalinya suatu kesadaran akan politik Timur Tengah. Melalui perjalanan ke luar negeri dan berbagai acara dengar pendapat resmi serta pertemuan-pertemuan pribadi, saya berbicara langsung dengan semua pemimpin utama yang menyusun kebijaksanaan di wilayah itu. Di antara tokohtokoh yang saya kenal itu adalah para pejabat kelompok-kelompok pelobi, yang kebanyakan di antaranya diorganisasi oleh para warga negara AS yang mempunyai ikatan etnis dengan Timur Tengah, termasuk American Israel Public Affairs Committee (AIPAC), organisasi kuat yang bekerja untuk kepentingan negara Israel di Capitol Hill. Pengalaman saya juga mencakup pencalonan dalam dua belas putaran pemilihan federal. Dalam dua pemilihan terahir, saya menyadari bahwa diri saya merupakan sasaran utama dari kelompok-kelompok lobi pro Israel. Kampanye-kampanye itu memberikan wawasan baru mengenai faktor-faktor dalam negeri yang mempengaruhi kebijaksanaan luar negeri. Ketika saya meninggalkan Kongres pada Januari 1983, dengan polos saya menganggap diri saya sebagai semacam ahli mengenai Israel dan negara-negara Arab.

Pendidikan saya dimulai dengan sungguh-sungguh ketika, setelah meninggalkan Kongres, saya memulai riset untuk buku saya They Dare to Speak Out: People and Institutions Confront Israel's Lobby.(3) Saya segera menyadari bahwa pengalaman saya sebagai anggota Kongres hanya memberikan pandangan sekilas mengenai jaringan kerja yang digunakan oleh para pendukung Israel untuk mempengaruhi penyusunan kebijaksanaan Timur Tengah maupun persepsi publik atas Israel.

Pengaruh ini menyusup ke segenap sendi pemerintahan dan ke dalam hampir semua aspek kehidupan, pribadi maupun umum, di seluruh Amerika Serikat. Di Capitol Hill pengaruh itu demikian kuatnya sehingga tidak pernah ada perdebatan menyangkut konflik Arab-Israel. Kecuali Senator Robert C. Byrd dari Virginia Barat dan Bob Dole dari Kansas serta para Wakil James A. Traficant, Jr. dari Ohio dan Nick Joe Rahall dari Virginia Barat, tidak ada satu pun dari anggota kedua dewan itu yang secara berlarut-larut mempertanyakan perilaku Israel. Sebagai mantan Wakil Menteri Luar Negeri, George W. Ball berkomentar: "Mengenai kebijaksanaan Timur Tengah, Kongres berlaku seperti sekawanan anjing pudel yang terlatih, melompat-lompat melalui simpai yang dipegang oleh lobi Israel."(4)

Setiap tahun Kongres Amerika Serikat menyumbangkan pada Israel sebanyak $1000 untuk setiap pria, wanita, dan anak Israel. Tidak soal sekeras apa pun Kongres memotong pos-pos lain dalam anggaran belanja federal, hadiah-hadiah untuk Israel terus mengalir tanpa amandemen yang restriktif atau bisik-bisik pertentangan. Tahun-tahun yang saya lalui di Capitol Hill mendorong saya untuk berkesimpulan bahwa di sana bantuan kepada Israel lebih keramat bahkan dibanding Jaminan Sosial dan Perawatan Kesehatan. 
Pengaruh Israel hampir sama besarnya di cabang eksekutif. Donald McHenry, seorang diplomat karier yang dihormati dan mantan duta besar untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa, mengemukakan penilaian yang suram ini: "Akibat pengaruh lobi [Israel], pemerintah kita tidak dapat memenuhi kepentingan nasionalnya sendiri di Timur Tengah." (5)

They Dare to Speak Out menjelaskan bagaimana kekuatan lobi ditanamkan dan dipertahankan --dan mengapa. Tanggapan terhadap penerbitan buku itu-- penjualannya melebihi 210.000 eksemplar --hampir sama mengejutkannya dengan fakta yang diketengahkannya. Tentang tulisan ini, lebih dari seribu orang pembaca telah mengirimkan pesan-pesan lewat surat dan telepon. Sebagian mengadakan perjalanan melintasi negeri ini ke rumah saya di wilayah barat-tengah. Semuanya merasa terganggu dan ingin membantu melonggarkan cengkeraman lobi itu dalam penyusunan kebijaksanaan Timur Tengah. Banyak di antara para pembaca ini yang menjadi anggota pendiri Council for the National Interest, sebuah organisasi nirlaba dan nonpartisan yang berpusat di Washington dan didirikan pada 1989. Tujuan utamanya adalah mengerahkan dukungan pada tingkat masyarakat atas kebijaksanaan-kebijaksanaan yang mengutamakan kepentingan nasional Amerika di Timur Tengah (lihat LAMPIRAN).

Surat-surat dan telepon-telepon itu mengajukan pertanyaan-pertanyaan penting. Apakah Israel itu demokratis? Mengapa Perserikatan Bangsa-bangsa menyamakan Zionisme dengan rasisme? Apakah Israel terbuka bagi semua pengungsi? Apakah Israel penting bagi keamanan Amerika Serikat? Apakah Israel membayar utang-utangnya pada Amerika Serikat? Apakah para warga negara Arab diperlakukan sama dengan warga negara Yahudi? Apakah pendudukan militer Israel atas Tepi Barat dan jalur Gaza merupakan suatu pelanggaran atas hukum internasional? Bagaimana Israel menjustifikasi kontrolnya atas orang-orang Palestina yang hidup di sana? Pihak mana yang memulai perang Arab-Israel? Apakah Amerika Serikat mempunyai kewajiban moral untuk membantu Israel dengan masalah-masalah yang dihadapinya, terutama pemukiman para imigran Yahudi dari bekas republik-republik Soviet?

Kebanyakan orang Amerika, yang terpengaruh oleh citra keliru yang telah diciptakan para pendukung Israel, barangkali akan menjawab begini: "Israel adalah demokrasi yang menentang rasisme, memperlakukan semua warga negaranya dengan adil, membayar utang-utangnya pada pemerintah Amerika Serikat dengan segera, telah menganut nilai-nilai yang sama dengan Amerika, dan penting kedudukannya bagi keamanan Amerika Serikat. Karena Amerika Serikat membantu kelahiran Israel dan mendorong imigrasi, maka ia mempunyai kewajiban moral untuk membantu Israel mengatasi masalah-masalahnya. Israel memerangi bangsa Arab hanya jika diserang. Ia harus mempertahankan kontrol ketat di Tepi Barat dan Jalur Gaza sebab orang-orang Palestina yang tinggal di sana ingin menghancurkan Israel." Jawaban-jawaban saya bertentangan dengan pandangan-pandangan ini. Tetapi sementara saya yakin bahwa pendapat-pendapat saya mempunyai landasan kuat, saya belum siap dengan sumber-sumber dasarnya. Saya juga tidak dapat menemukannya dalam buku mana pun.

Sementara meneruskan riset saya setelah terbitnya edisi revisi dari They Dare to Speak Out pada 1989, saya mendapati sejumlah besar pernyataan yang telah diterima secara luas mengenai hakikat Israel dan hubungannya dengan Amerika Serikat yang terbukti keliru melalui dokumen-dokumen yang otoritatif. Jelas bahwa diterimanya pikiran-pikiran yang keliru mengenai Israel bukanlah suatu kebetulan. Tetapi adalah hasil kerja dari banyak orang yang telah mengerahkan tenaga mereka untuk melaksanakan tugas itu dengan penuh kegigihan dan tanggung jawab.

Dorongan untuk mendukung omong kosong-omong kosong ini muncul, setidaknya sebagian, dari rasa hormat orang-orang Yahudi dan Kristen pada Israel. Pendirian negara Israel pada 1948 merupakan prestasi utama agama Yahudi dalam sejarah masa kini, tahun-tahun puncak di mana "tahun depan di Jerusalem" menjadi seruan pemersatu dan impian banyak orang Yahudi di seluruh dunia. Seruan itu semakin bergema setelah terjadinya penindasan kejam dan pembunuhan besar-besaran terhadap orang-orang Yahudi oleh kaum Nazi Jerman selama Perang Dunia II. Contoh seram dari kejahatan pemusnahan bangsa Yahudi ini akan selalu mendapat perhatian publik dengan dibukanya Museum Holocaust baru di dekat Monumen Washington di Washington, D.C. Namun sungguh ironis bahwa usaha sistematis Nazi Jerman untuk menghancurkan bangsa Yahudi di Eropa, yang bukan merupakan tanggung jawab langsung pemerintah Amerika Serikat, menjadi subjek peringatan nasional, sementara kejadian-kejadian yang atasnya pemerintah kita harus menerima tanggung jawab penuh --perbudakan, pembunuhan atas orang-orang Indian Amerika, dan kini pelanggaran atas hak-hak asasi bangsa Arab oleh Israel -- justru diabaikan.

Meskipun pendirian Israel ditentang keras oleh banyak tokoh terkemuka Yahudi di Amerika Serikat dan kejahatannya tetap menjadi topik pemikiran yang meluas di kalangan masyarakat Yahudi di sana, Israel tetap bercahaya di hati orang-orang Yahudi lainnya. Negara Yahudi dipandang sebagai suatu tempat berlindung di mana bangsa Yahudi dapat merasa aman dari datangnya gelombang perasaan anti-Semit di masa mendatang. Sebuah survei yang dibuat pada 1983 mengenai orang-orang Yahudi Amerika mencatat: "Perhatian pada Israel masih ditunjukkan dengan menghadiri Passover Seder dan dengan menyalakan lilin-lilin Hanukkah sebagai ungkapan kesetiaan Yahudi Amerika yang paling populer." (6) Rabbi Arthur Hertzberg sampai pada kesimpulan serupa: "Rasa memiliki orang-orang Yahudi di seluruh dunia, di mana Israel merupakan pusatnya, merupakan perasaan keagamaan, namun tampaknya itu juga dirasakan oleh orang-orang Yahudi yang menganggap diri mereka sekular atau ateis." (7)

Cendekiawan Irving Kristol mengakui kepeduliannya pada Israel di halaman-halaman The Wall Street Journal: "Mengapa saya begitu terpengaruh? Saya bukan seorang Yahudi Ortodoks, dan tidak terlalu taat. Saya bukan seorang Zionis dan saya merasa bahwa dua kali kunjungan saya ke Israel tidak terlalu menggembirakan." Namun dia mengaku sangat peduli pada Israel sebab dia merasakan "jauh di lubuk hati bahwa apa yang terjadi pada Israel akan menentukan bagi sejarah Yahudi, dan bagi jenis kehidupan yang akan dijalani oleh cucu-cucu dan cicit-cicit saya." (8)

 Di tahun-tahun belakangan ini Israel dianggap lebih dari sekadar tempat mengungsi. Ralph Numberger, sarjana lain dan pengamat kritis agama Yahudi, mencatat adanya penurunan tajam peran serta Yahudi dalam kebaktian agama dan menyimpulkan: "Bagi banyak orang Yahudi Amerika, Israel telah menggantikan Yahudi sebagai agama mereka(9). Akibatnya Israel menjadi fokus pengabdian yang kukuh dan tidak kritis bagi para pemimpin organisasi-organisasi Yahudi tradisional Amerika. 

Tetapi masih ada perkecualian. Di kalangan akademis, bisnis, dan jurnalis, sejumlah profesional Yahudi terkemuka berbicara dan menulis tentang Israel dengan terus terang, seimbang, dan peka. Di antaranya Anthony Lewis, Mike Wallace, Roberta Feuerlicht, Rita Hauser, Milton Viorst, Seymour M. Hersh, Michael Lerner, Noam Chomsky, dan Philip Klutznick. Mereka memberikan sumbangan berharga pada wacana publik mengenai kebijaksanaan Timur Tengah. Namun terkadang suara-suara mereka tidak dapat didengar akibat dengungan mantra-mantra dari orang-orang Amerika yang penilaiannya tersaput awan kegairahan emosional.

Israel juga mendapatkan dukungan politik sangat besar dari berjuta-juta orang Kristen fundamentalis yang dibutakan oleh keyakinan untuk menerima pikiran-pikiran keliru mengenai Israel. Mereka percaya bahwa orang-orang Israel masa kini mewarisi hak istimewa dari Tuhan yang dimiliki orang-orang Israel di masa diwahyukannya Kitab Injil. Mereka berpendapat bahwa Israel harus dijaga agar tetap kuat sebagai bagian dari rencana Tuhan untuk "akhir zaman" yang diramalkan dalam Kitab Injil. Mereka mengabaikan landasan-landasan sektarian anti-Semit dan anti-Katolik dari sistem keyakinan apokaliptis ini, yang meramalkan kehancuran semua bangsa, termasuk Yahudi, yang tidak "dilahirkan kembali" sebagai penganut agama Kristen. (10)

Orang-orang Kristen fundamentalis dan orang-orang Yahudi yang menerima Israel sebagai agama mereka tampaknya terpaksa membelanya dari semua kritik. Dalam semangat mereka, sering kali mereka salah menuduh para kritikus Israel sebagai anti-Semit atau "orang-orang Yahudi yang membenci diri sendiri." Akibatnya timbullah intimidasi. Kebebasan berbicara diberangus dan telah yang mendalam serta penilaian yang bijaksana dihalangi. Sebaliknya, diskusi terbuka mengenai kelemahan-kelemahan Israel lazim dilakukan para warga negaranya. Pers Ibrani, forum utama bagi perdebatan bangsa Israel, dipenuhi laporan-laporan yang terus terang tentang kesalahan tindakan pemerintah Israel, namun semua ini jarang dikutip di Amerika Serikat.

Yang juga dapat kita temukan di kalangan para pembela Israel adalah orang-orang yang tidak mempunyai motivasi agama tetapi percaya bahwa negara Israel melindungi kepentingan-kepentingan militer, ekonomi, atau politik vital Amerika di wilayah itu. Selama bertahun-tahun, mereka menganggap Israel sebagai benteng pertahanan melawan intervensi Soviet. Kini mereka melihatnya, secara keliru menurut pendapat saya, sebagai suatu lawan efektif bagi kejahatan radikalisme agama yang berpusat di Iran dan ancaman militer yang telah ditunjukkan oleh Saddam Hussein dari Irak.

Kebanyakan omong-kosong Israel merupakan hasil karya para partisan agama, baik Yahudi maupun Kristen, yang mengulang-ulang omongan kosong ini sedemikian seringnya dari tahun ke tahun sehingga semuanya diterima hampir secara universal sebagai realitas. Bagi sebagian besar orang Amerika, rangkaian mitos-mitos ini menegaskan kedudukan Israel dan membuat bantuan ekonomi, politik, dan militer Amerika Serikat tetap mengalir.

Dalam buku ini, saya mencatat setiap pernyataan seorang tokoh terkemuka dan kemudian menelaah dan membuktikan kebohongannya dengan mengemukakan fakta-fakta yang secara cermat dilaporkan dan dijelaskan dalam catatan publik, sebagian besar dari sumber-sumber Israel. Gambaran tentang Israel yang kemudian tampil, yang didukung oleh fakta-fakta dan bukannya mitos-mitos, akan membuka mata banyak pembaca.

Jika sejarah konflik Arab-Israel ditulis di masa sekarang, akan tercatat bahwa sebagian besar warga negara Amerika Serikat, baik yang beragama Kristen maupun Yahudi, tidak akan bersuara mengenai kebijaksanaan-kebijaksanaan tidak manusiawi yang dilaksanakan oleh Israel atau secara langsung terlibat dalam pelaksanaannya. Maksud buku ini adalah memberikan informasi yang akan mengilhami para pembaca yang bijaksana agar menuntut perubahan.

{[['']]}
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Perpustakaan Digital PUSDA Sumedang - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website | Published by Mas Template | Modified by PUPUN Wirasaputra
Proudly powered by Blogger