EBOOK Baru :
Recent EBOOKS
Tampilkan postingan dengan label Sejarah Budaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sejarah Budaya. Tampilkan semua postingan

Srikandi Belajar Memanah

CERITA-CERITA wayang sangat digemari di Indonesia. Kisah-kisahnya menarik, dan waktu dimainkan dalam pertunjukkan wayang kulit diikuti suara gamelan dengan lagu-lagu yang menimbulkan perasaan aman, gembira. susah, marah, bersemangat, dan lain-lain.

Dalam pertunjukan wayang kulit biasanya digunakan bahasa halus, sedang, dan kasar menurut kebutuhan.
Isi cerita selalu mengandung tuntutan dan nasihat-nasihat untuk masyarakat.

Kisah Srikandi Belajar Memanah ini sejak dulu sampai sekarang tetap digemari orang, terutama oleh ibu-ibu rumah tangga, karena isinya menyangkut cobaan-cobaan yang mungkin terjadi dalam rumah tangga.

Sangat disayangkan bahwa buku-buku mengenai kisah-kisah wayang purwa itu sebagian terbesar masih dalam bahasa Jawa Kuno atau Kawi, dalam huruf Jawa dan dalam bentuk syair Macapat yang sulit untuk dimengerti oleh mereka yang tidak memahami huruf dan bahasa tersebut.

Penyajian kisah Srikandi Belajar Memanah dalam bahasa Indonesia gaya bebas ini dimaksud agar mudah dipahami oleh masyarakat di seluruh lndonesia.

{[['']]}

Kerajaan Islam di Jawa

BUKU yang disajikan sekarang ini merupakan buku kedua dalam Seri Terjemahan Javanologi, usaha bersama antara Perwakilan Koninklijk Instituut voor Taal-, Land-en Volkenkunde (KITLV) di Jakarta dan Proyek Penelitian dan Pengkajian Kebudayaan Nusantara (Javanologi) di Yogyakarta.

Buku pertama dalam rangkaian terbitan tersebut mengenai Sastra Jawa Mutakhir sejak tahun 1945. Kemudian menyusul enam buku mengenai Sejarah Jawa antara abad ke-15 dan ke-18.
Dalam buku ke-2 ini Dr. H.J. de Graaf dan Dr. Th.G.Th. Pigeaud berusaha menggambarkan sebuah episode sejarah Jawa antara zaman pengaruh Hindu-Budha dan masuknya agama Islam di Indonesia berdasarkan sumber-sumber sejarah Jawa asli, seperti Babad Tanah Djawi, Serat Kandha, Babad Mataram, dan Babad Sangkala.

Dengan demikian, para pengarang tersebut telah mengoreksi "wajah" sejarah Jawa olahan para ilmuwan Eropa yang selama ini diwarnai oleh informasi yang bersumber pada data-data asing saja. De Graaf dan Pigeaud berhasil melengkapi historiografi Jawa dengan menggunakan sumber-sumber Jawa sendiri. Hasil usaha kedua sarjana tangguh ini patut dihargai dan dijadikan pedoman dan bekal bagi penelitian Sejarah Jawa selanjutnya.

Kepada Perwakilan KITLV dan Penerbit Grafiti Pers kami ucapkan terima kasih atas usahanya menerjemahkan karya ini dan menyuguhkannya dalam bentuk yang menarik.

{[['']]}

Gajah Mada - Hamukti Palapa (03)

Entah ilham dari mana yang merasuki jiwa dan pikiran Gajah Mada hingga ia begitu terobsesi untuk mengikat serakan pulau yang sedemikian banyak dan luas dalam wadah Nusantara di bawah panji¬panji Majapahit
Entah keteguhan macam apa yang dimiliki Gajah Mada hingga tanpa keraguan sedikit pun ia berani bersumpah untuk meninggalkan segala kesenangan hidup dan menjalani penderitaan tanpa ujung sampai sumpahnya mewujud dalam kebesaran Majapahit.

Bahkan, Indonesia berutang pada sumpah sang Mahapatih ini dengan mewarisi keluasan wilayah yang dulu berhasil dipersatukannya di dalam negara Majapahit. Untaian zamrud khatulistiwa yang sekarang kita banggakan sebagai Indonesia adalah jejak keberhasilan yang ditinggalkan Gajah Mada.

Sumpah Palapa begitu magis dan mencengangkan. Betapa tidak, ketika ditelisik perjalanan hidupnya, Mahapatih Amangkubumi Gajah Mada ternyata awalnya bukan siapa-siapa dan mengawali kariernya dari tataran paling bawah. Namun, loyalitas dan totalitas pengabdian pada negara yang bermuara pada keberaniannya mengucapkan sebuah sumpah sekaligus mengejawantahkan sebuah gagasan yang cerdas, progresif, dan revolusioner mengantarkannya meraih puncak pencapaian politiknya.

Gajah Mada, Hamukti Palapa, inilah kisah yang menggetarkan. Ambisi kekuasaan bertaut dengan kisah masa silam, teka-teki, dan misteri hilangnya benda-benda pusaka istana (cihna nagara, songsong Udan Riwis, dan mahkota yang dimitoskan sebagai sarang wahyu kedaton) menjadikan kisah ini begitu hidup, naik turun, dan tentu saja memikat. Selamat bertualang di padang imajinasi dalam bingkai kesejarahan.

{[['']]}

Gajah Mada - Bergelut Dalam Kemelut Tahta Dan Angkara (02)

Perebutan kekuasaan dan intrik-intrik politik di tataran elite yang akhirnya menjebak rakyat yang tidak berdaya menjadi korban ternyata bukan persoalan aktual yang baru muncul sebagai persoalan manusia modern. Bahkan berabad yang lalu, ketika Majapahit dengan megah bertakhta di tanah Jawa, konspirasi politik tingkat tinggi pun telah dengan kompleks menjadi bagian realitas kehidupan di dalamnya. 

Makar Ra Kuti berhasil diberangus. Waktu telah berlalu sembilan tahun hingga luka-luka yang ditimbulkan akibat nafsu kuasa yang tak terkendali dari para Dharmaputra Winehsuka dapat disembuhkan dan kesejahteraan kawula dipulihkan. Akan tetapi, lakon Gajah Mada masih sangat jauh dari tuntas. Karena godaan kekuasaan yang menyebabkan rusaknya tatanan, sekali lagi terjadi, memupus perjalanan hidup Jayanegara dan kembali membenamkan Gajah Mada ke dalam arus deras perebutan kekuasaan atas singgasana Majapahit. 

Bagaimana sepak terjang sang kesatria Gajah Mada dalam menyelamatkan Majapahit dari kehancuran? Konflik-konflik macam apa yang mewarnai perebutan kekuasaan atas Majapahit sepeninggal Jayanegara? Pihak-pihak mana saja yang ikut bermain di dalamnya? Kembali Langit Kresna Hariadi (dengan segala kepiawaiannya) menuturkannya untuk Anda. 

Sebagaimana pendahulunya (Gajah Mada), Gajah Mada, Bergelut dalam Kemelut Takhta dan Angkara ini bukan sekadar cerita yang tumbuh dan besar dari ranah imajinasi. Sebagai karya sastra, novel ini mempunyai kekuatan yang sangat menjebak, tidak hanya dalam arti memberi keasyikan imajinatif dalam menikmati, tetapi hasil dari proses membaca pun akan begitu mengagetkan. Novel ini berkesanggupan ”memaksa” pembaca untuk ikut terlibat secara langsung dalam jalinan cerita di dalamnya, memecahkan teka-teki yang tersaji, dan membuka simpul misteri atas apa yang terjadi.

Detail-detail sejarah yang diramu sedemikian apik tanpa kesan menggurui masih juga menjadi kekuatan dari novel ini. Gajah Mada, Bergelut dalam Kemelut Takhta dan Angkara yang begitu kaya perspektif (historis, sosiologis, antropologis), namun dituturkan dengan begitu cair adalah media yang sangat atraktif yang mampu membawa pembaca untuk berwisata dan lebur dengan zaman lampau serta menghayati kembali peristiwa-peristiwa penting dalam perjalanan sejarah Majapahit. Jadi, meskipun novel ini dibaca tanpa pretensi untuk belajar hasil akhirnya akan sangat memperkaya wawasan. 

Terima kasih tak terhingga kami ucapkan kepada Anda, yang telah memberikan apresiasi yang sangat baik terhadap Gajah Mada, novel terdahulu kami, dan sangat antusias menunggu kelanjutan kisahnya. Kepada Andalah Gajah Mada, Bergelut dalam Kemelut Takhta dan Angkara ini kami persembahkan.

{[['']]}

Gajah Mada (1)

Sejarah adalah guru kehidupan. Sosoknya yang usang justru kerap memberi ilham pencerahan. Pembacaan atas sejarah dapat mempertemukan manusia dengan segenap kearifan. Pada titik paling spektakuler, sejarah yang terangkum dalam karya Ilahiah bernama kitab suci, bahkan mampu mengantarkan manusia tunduk di haribaan Tuhannya atas nama keimanan. 

Fiksi, sebagai karya seni boleh saja lahir dan besar dari ranah imajinasi. Akan tetapi, arti penting karya fiksi bagi pembentukan dan pelestarian peradaban tidak dapat dikecilkan hanya karena ia menyandang label sebagai buah imajinasi.

Imajinasi dalam novel-novel Jules Verne mampu membimbing ilmuwan semacam J.D. Watson menemukan DNA, Auguste Pichard menemukan lampu neon. Penemuan-penemuan lain seperti balon udara, kapal selam nuklir, hujan buatan, dan rudal, sedikit banyak berutang pada imajinasi Verne. 
Keteguhan pada komitmen-komitmen moral yang kemudian diekspresikan melalui karya fiksi jualah yang membuat orang-orang semacam Pramudya Ananta Toer, Gao Xingjian, dan Boris Pasternak tergusur dari kesempatan menjalani hidup secara wajar. Atas nama karya fiksi tokoh-tokoh ini harus rela hidupnya dinistakan dengan segala kenelangsaannya.

Sejarah dan fiksi, dua hal besar, penting, kadang ekstrem, bahkan tidak masuk akal. Lantas, kemungkinan seperti apa yang bakal lahir dari sintesis dua hal dahsyat ini? Pasti, bukan hal yang remeh-temeh, apalagi kosong.

Gajahmada dan Majapahit adalah ikon yang akan selalu hadir dalam pentas sejarah panjang perjalanan bangsa ini. Hanya, barangkali tidak terlalu banyak yang mengetahui bahwa di balik dua nama besar ini tersimpan kisah amat memesona, penuh gejolak, dan menggugah.

Fakta sejarah inilah yang ditautkan dengan fiksi sehingga lahir sebuah epos berjudul Gajahmada. Eksplorasi kesejarahan ini akan mengabarkan kepada Anda bahwa nama besar Majapahit bukan hanya terbangun karena luas wilayahnya, ketangguhan Gajahmada, pemerintahan Raden Wijaya, atau Jayanegara. Di balik segala kemegahan itu ada pasukan elite bernama Bhayangkara yang sumbangsihnya membuat kita mengenal Majapahit dengan segala kebesarannya seperti sekarang ini.

Semoga karya ini mampu menjadi ”teman” bagi Anda yang ingin melakukan pembacaan sejarah dan menghikmati kearifan di dalamnya karena hidup manusia mestinya adalah sebuah hidup yang menyejarah.

{[['']]}

Detik-detik yang Menentukan

Prahara kembali menghantam bangsa Indonesia dalam siklus 30 tahunan. Kemelut politik pada pertengahan dedake 1960-an kembali terulang menjadi krisis multidimensional yang diawali dengan adanya krisis moneter pada pertengahan 1997.

Salah urus kenegaraan memasuki tahun 1990-an, telah membawa Indonesia dalam kesulitan ekonomi yang sangat berat. Inflasi mencapai 650 persen. Korupsi merajalela. Barang kebutuhan pokok sehari-hari mengalami kelangkaan dimana-mana. Kondisi buruk tersebut dipengaruhi oleh krisis politik yang akhirnya memuncak pada tragedi nasional dengan korban jiwa banyak orang pada tanggal 30 September 1965.

Melalu usaha keras disertai bantuan negara-negara donor, Indonesia akhirnya berhasil bangkit kembali. Selama pertumbuhan ekonomi yang mengesankan, bahkan disebut sebagai Negara Asia Berkinerja Tinggi oleh Bank Dunia.

Selangkapnya silahkan download buku "Detik Detik Yang Menentukan BJ Habibie : Jalan Panjang Indonesia Menuju Demokrasi" versi PDF.)

{[['']]}
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Perpustakaan Digital PUSDA Sumedang - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website | Published by Mas Template | Modified by PUPUN Wirasaputra
Proudly powered by Blogger